MANAJEMEN IDENTITAS DALAM DUNIA MAYA
A. IDENTITAS
Identitas didefinisikan
sebagai imaji budaya, sosial, relasional, dan individual atas konsep diri.
Identitas memiliki implikasi keanggotaan grup, antar pribadi, dan individual.
Identitas merupakan kaleidoskop berwarna yang memiliki karakter dinamis dan
stabil. Henri Tajfel mendefinisikan identitas individual sebagai gabungan
antara identitas sosial dan identitas personal pada level psikologis. Identitas
sosial termasuk identitas keanggotaan etnis atau budaya tertentu, identias
gender, identitas orientasi seksual, identitas kelas sosial, identitas peran
sosial, dan sebagainya. Identitas personal termasuk atribut unik yang kita
asosiasikan dengan diri kita dibandingkan dengan orang lain. Baik identitas
sosial maupun personal punya pengaruh dalam perilaku kita sehari-hari. Teori
manajemen identitas dari Tadasu todd Imahori dan William Cupach menekankan
pentingnya dukungan facework dalam pengembangan hubungan antar budaya. Teori
ini menyarankan agar individu mengelola identitas mereka secara berbeda pada
waktu yang berbeda dalam hubungan mereka. (Littlejohn&Foss, 2009:492-494).
B. IDENTITAS
DI DUNIA MAYA SEBAGAI BENTUK PEMUASAAN DIRI
Banyak orang yang
merasa tidak puas dengan keadaan diri mereka di dunia nyata, sehingga mereka
cenderung melarikan diri ke dunia maya dan membuat tempat tinggal yang mereka
harapkan untuk memenuhi kebutuhan psikologi mereka akan eksistensi diri.
Melalui karakter yang mereka buat dalam media-media yang ditawarkan seperti
media sosial facebook, twitter, blog, email, bahkan game online. Mereka
mengekspresikan diri mereka menjadi diri yang mereka kehendaki.
Kebutuhan manusia akan
eksistensi diri merupakan kebutuhan yang mendasar setelah kebutuhan primer.
Kebutuhan agar merasa dianggap oleh orang lain, yang akan memberikan nilai pada
diri mereka. Melalui identitas maya mereka bisa menemukan cara agar lebih
diakui oleh orang lain. Hal-hal yang tidak bisa dilakukan di dunia nyata, bisa
mereka lakukan di dunia maya tanpa harus takut akan ketahuan siapa mereka
sebenarnya. Dunia maya menawarkan anonimitas identitas sehingga orang-orang
lebih bebas berekspresi. Selain anonimitas, dunia maya juga menawarkan multiple
identity yaitu kemungkinan bagi seseorang untuk memiliki lebih dari satu
identitas di dunia maya.
C. REAL
IDENTITY VS. VIRTUAL IDENTITY
Perkembangan media
sosial memberikan dampak tersendiri terhadap identitas diri seseorang. Melalui
media sosial seseorang dapat mengekspresikan hal-hal tentang dirinya yang
sebelumnya mungkin tidak diekspresikan di dunia nyata. Para generasi muda saat
ini sangat aktif dalam mengekspresikan semua hal tentang dirinya di media
sosial. Salah satu akibatnya, tidak sedikit dari mereka yang berkenalan di
dunia maya tanpa bertemu sama sekali sebelumnya. Kemudian, jika mereka
memutuskan untuk bertemu di dunia nyata, seringkali menemukan perbedaan antara
identitas di dunia maya dan identitas sebenarnya.
Apa yang menjadi
perbedaan identitas tersebut? Perbedaannya adalah bagaimana cara komunikasi
verbal dan nonverbal seseorang di dunia maya dan di dunia nyata. Sebagai contoh
kasus yaitu banyaknya keluhan para mahasiswa yang berkenalan di dunia maya,
lalu saat pertama bertemu merasa tidak nyaman dan menyesal karena cara
komunikasi verbal dan nonverbal yang dilakukan di dunia maya berbeda dengan di
dunia nyata. Padahal di dunia maya saat mereka chatting dan free calling
sekalipun komunikasi terjadi dengan lancar. Mengapa hal seperti ini dapat
terjadi? Salah satu sebabnya adalah mungkin orang yang saling berkenalan ini
gugup atau sifat aslinya adalah pemalu jika bertemu secara tatap muka. Namun,
di dunia maya tidak terlihat sifat-sifat nya ini. Selain itu, pada saat bertemu
di dunia nyata body appearance dan body behavior seseorang dapat berbeda dengan
yang dia tampilkan di dunia maya.
Tak hanya itu,
berkenalan dengan stranger di dunia maya dapat memicu tindak kejahatan. Sering
sekali kita mendengar kasus perkenalan seseorang dengan orang lain di Facebook
yang berakhir tragis. Misalnya, mereka yang melakukan kejahatan adalah seorang
psychopath, namun kita tidak bisa mendeteksinya sama sekali saat kita
berinteraksi di dunia maya. Jadi kita harus waspada ketika berkenalan dengan
seseorang di dunia maya. Juga, kita harus bijaksana saat membangun identitas
nyata (real identity) dengan identitas virtual (virtual identity) kita. Karena
memang tidak bisa dipungkiri setiap orang ingin terlihat positif di dunia maya,
namun kita harus mempertimbangkan juga dampak yang akan ditimbulkan jika kita
tidak menyelaraskan identitas nyata dan identitas virtual kita.
D. MANAJEMEN
KESAN (IMPRESSION MANAGEMENT)
Manajemen Kesan
(impression management) merupakan bangunan yang merepresentasikan penampilan
dan pemeliharaan identitas sosial selama interaksi. Manajemen kesan merujuk
pada gambaran yang ditampilkan seseorang selama berinteraksi. Beberapa peneliti
menggunakan konsep diri public (public self) atau diri sosial (social self)
untuk membedakan identitas sosial dari kehidupan pribadi. Sebagai individu,
kita diatur oleh berbagai keistimewaan yang banyak, seperti kebiasaan, perilaku
yang sopan, keyakinan, sikap, nilai, kemampuan, kebutuhan, ketertarikan,
sejarah keluarga, dan sebagainya. Ketika berinteraksi dengan pihak lain, kita
tidak dapat menampilkan seluruh aspek dalam kehidupan pribadi kita. Karenanya
kita akan memilih karakter-karakter dari matriks perilaku dan psikologis kita
yang kita yakini akan mempresentasikan diri yang harus kita jalani dalam
kondisi tersebut. Jika seseorang membangun diri publiknya terdesak norma-norma
interaksi, maka komunikasi koheren tidak akan terjadi. Orang akan cenderung
mengatakan apapun yang mereka pikirkan, keluar dan masuk dalam percakapan
sesuka hati, dan merespon (atau tidak) secara acak atas komentar orang lain.
Tanpa mengenali dan mengikuti norma terkait etika komunikasi yang layak,
konstruksi makna secara bersama tidak dapat terjadi. (Littlejohn & Foss,
2009:506-507)
Perilaku dan
atribut-atribut yang diasosiasikan dirangkum dalam lima jenis atribusi,
strategi karakteristik yang harus didapatkan tiap atribusi, dan berbagai taktik
untuk menerapkan strategi, yaitu:
(1) Seseorang
yang ingin dianggap sebagai orang yang mudah disukai atau ramah akan
menggunakan strategi menjilat (ingratiation) dan menggunakan taktik menampilkan
emosi yang positif selama berinteraksi, melakukan hal-hal yang disukai orang,
member pujian, dan menggunakan humor yang mencela diri sendiri.
(2) Seseorang
yang ingin dianggap kompeten akan menggunakan strategi promosi diri (self
promotion) dan taktik memberi tahu orang lain tentang prestasinya, perilaku
baiknya, atau pencapainnya dengan menampilkan plakat atau penghargaan agar
dilihat orang.
(3) Seseorang
yang ingin dianggap berharga akan menggunakan strategi pemberian contoh
(exemplification) dan taktik mendemonstrasikan secara halus kemampuannya,
kompetensinya, integritasnya, atau nilai lain dibanding menyatakan secara
langsung pada orang lain.
(4) Seseorang
yang ingin dianggap tidak tertolong akan menggunakan strategi permohonan
(supplication) atau membuat dirinya seolah kurang beruntung
(self-handicapping). Strategi ini menggunakan taktik tampil lemah atau sedih
untuk menimbulkan perilaku mengasuh atau menjaga dari orang lain. Selain itu
juga menggunakan taktik memperlihatkan ketidaktahuan atau pengalaman yang minim
untuk menghindari tanggung jawab tugas.
(5) Seseorang
yang ingin dianggap berkuasa atau terkendali akan menggunakan strategi
intimidasi dan taktik yang digunakan adalah menampilkan kemarahan atau
keinginan untuk menghukum atau mencelakai pihak lain. (Littlejohn & Foss,
2009: 506-507)
E. MEDIA SOSIAL
Media sosial berfungsi sebagai sarana penggunanya untuk menempatkan diri
dalam kerangka yang mereka inginkan. Pengguna memiliki kuasa untuk
mengidentifikasi karakter diri yang mereka ingin bangun. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa tujuan awal informan menggunakan media sosial untuk
behubungan dengan kerabat dan keluarga, mengembangkan relasi, serta sebagai
sarana aktualisasi diri. Dalam aktualisasi diri, informan kemudian menetapkan
citra tertentu yang ingin mereka perlihatkan dalam akun media sosial mereka.
Citra dan karakter tersebut kemudian melekat menjadi identitas pemilik akun.
Media sosial yang kemudian menjadi bagian dari personal
branding diharapkan dapat dibentuk melalui media sosial dengan
melakukan berbagai aktivitas di media sosial yang bisa mendukung personal
branding tersebut.
F. MANAJEMEN IDENTITAS
Cara yang dapat untuk melakukan manajemen identitas diri di dunia maya atau
media sosial adalah dengan membatasi privasi yang akan dipublikasikan baik itu
diri sendiri maupun orang lain, Jika di dunia ada pepatah “ Mulut mu, harimau
mu “ maka untuk media sosial adalah “ Jari mu, harimau mu “ maksudnya disini
adalah kita harus tau apa yang akan kita ucapkan di media sosial agar tidak
menyinggung pihak manapun. Selain memberi batasan tentang privasi, mengingat
dengan maraknya pembunuhan dan penculikkan yang berasal dari media sosial,
karenanya kita juga harus memilah orang yang ada di media sosial tersebut guna
mencegah hal – hal yang tidak diinginkan.
Lalu, kita juga bisa gunakan cara dibawah ini :
-Pengaturan privasi
Pengaturan privasi untuk
mengatur privasi anda sendiri, memilih informasi apa sajakah yang ingin anda
perlihatkan secara publik.
-Privasikan foto atau informasi anda yang telah
ditanda oleh teman
Penandaan adalah sebuah fitur yang mengizinkan anda
untuk mengaitkan nama teman beserta foto mereka. Jika anda ingin tidak semua
orang dapat melihatnya, anda dapat menyesuaikannya di pengaturan dengan memilih
“Hanya Saya”, atau yang lainnya. Karena penandaan foto juga dapat memicu orang
mengambil foto anda tanpa izin, anda harus lebih berhati-hati dalam membagikan
sesuatu.
-Jangan membagikan informasi yang dapat membuat orang lain mencuri identitas atau lokasi anda.
-Jangan membagikan informasi yang dapat membuat orang lain mencuri identitas atau lokasi anda.
Jangan membagikan alamat anda secara umum karena dapat
memicu orang untuk melakukan hal yang buruk. Kurangi penulisan biodata yang
lengkap di sosial media serta lindungi informasi anda yang rahasia.
DAFTAR PUSTAKA
Lailiyah, Nuriyatul. 2016. Presentasi Diri Netizen dalam Konstruksi
Identitas di Media Sosial dan
Kehidupan Nyata. Jurnal Ilmu Sosial, 15(2): 103 – 110.
Kehidupan Nyata. Jurnal Ilmu Sosial, 15(2): 103 – 110.
Comments
Post a Comment