Manusia Dan Budaya


Manusia dan Kebudayaan adalah dua hal yang sangat erat terkait satu sama lain. Dalam uraian kali ini saya akan mencoba untuk membahas tentang manusia dan kebudayaan.
A.   Pengertian Manusia
Manusia di alam dunia ini memegang peranan yang unik, dan dapat dipandang dari banyak segi.
  Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia “manusia adalah makhluk yg berakal budi (mampu menguasai makhluk lain); insan; orang (nomina)” .
  
Menurut Wikipedia “Manusia atau Orang dapat diartikan berbeda-beda dari segi biologis,rohani,dan istilah kebudayaan,atau secara campuran.
 Menurut Zakiyah Drajat (1994) bahwa manusia dalam pandangan kebendaan hanyalah merupakan sekepal tanah di bumi.
  Dalam ilmu eksakta (ilmu yg berdasarkan ketepatan dan kecermatan dl metode penelitian dan analisis) , manusia di pandang sebagai kumpulan dari partikel-partikel atom yang membentuk jaringan-jaringan sistem yang dimiliki oleh manusia (ilmu kimia). Manusia merupakan kumpulan dari berbagai sistem fisik yang saling terkait satu sama lain dan merupakan kumpulan dari energi (ilmu Fisika), manusia merupakan mahluk biologis yang tergolong dalam golongan mahluk mamalia (biologi).
  Dalam ilmu-ilmu sosial,manusia merupakan mahluk yang ingin memperoleh keuntungan atau selalu memperhitungkan setiap kegiatan,sering disebut homo economicus (ilmu ekonomi), manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat berdiri sendiri (sosiologi), mahluk yang selalu ingin mempunyai kekuasaan (politik) ,mahluk yang berbudaya ,sering disebut homo-humanus (filsafat) ,dan lain sebagainya.
  Secara bahasa,manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
 
  
B.      Hakikat Manusia
a.      Menurut Plato
   Seorang filsuf dan matematikawan, murid dari Socrates yang pandangan dan metodenya juga telah membantuk terbentuknya fondasi dunia filsafat barat. Ranah pemikirannya sampai kepada, etic, logika, filsafat, agama, retorik dan matematika. Hakikat manusia menurut plato adalah :
·         Setiap manusia lahir dengan memilki kebutuhan biologis masing-masing
Tugas paling mendasar dari jiwa manusia adalah untuk mengejar pengetahuan.
·         Kebutuhan dari jiwa yang menginginkan pemurnian dari badannya, dan jiwa tersebut tidak akan dapat murni sampai dia mati.
·         Bagian paling rasional dari jiwanya adalah bagian yang dapat mendapatkan kebenaran. Ini adalah tugas dari yang tercerahkan.
·         Jiwa memiliki tiga bagian, yang mempertanyakan, semangat, dan hasrat.
·         Jika manusia tidak berkecimpung di dalam sebuah kelompok, dia tidak akan bertahan.
·         Interaksi sosialah yang membuat kita benar-benar manusia.

Sementara menurut pada buku “Ilmu Budaya Dasar “ yang di terbitkan oleh Gunadarma Di edisi pertama cetakan kelima tertulis bahwa hakikat manusia adalah sebagai berikut ;
a. Mahluk ciptaan tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.
Tubuh adalah materi yang dapat dilihat,diraba ,dirasa,wujudnya konkrit tetapi tidak abadi. Jika manusia itu meninggal, tubuhnya hancur dan lenyap. Jiwanya terdapat didalam tubuh,tidak dapat dilihat,tidak dapat diraba,sifatnya abstrak tetapi abadi. Jika manusia meninggal, jiwa lepas dari tubuh dan kembali ke asalnya yaitu Tuhan, dan jiwa tidak mengalami kehancuran. Jiwa adalah roh yang ada di dalam tubuh manusia sebagai penggeran dan sumber kehidupan.
b.      Mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna,jika dibandingkan mahluk lainnya.dengan
Kesempurnaannya terletak pada adab dan budayanya ,karena manusia dilengkapi oleh penciptanya dengan akal,perasaan,dan kehendak yang terdapat didalam jiwa manusia. Dengan akal (ratio) manusia mampu menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Adanya nilai baik dan buruk,mengharuskan manusia mampu mempertimbangkan,menilai dan berkehendak menciptakan kebenaran,keindahan,kebaikan atau sebaliknya.
     Selanjutnya dengan adanya perasaan, manusia mampu menciptakan kesenian. Perasaan dalam diri manusia itu ada 2 macam, yaitu ;
1.      Perasaan Inderawi
Adalah rangsangan jasmani melalui pancaindra,tingkatnya rendah dan terdapat pada manusia atau binatang.
2.      Perasaan Rohani
Adalah perasaan luhur yang hanya terdapat pada manusia misalnya :
·        - Perasaan intelektual , yaitu perasaan yang berkenaan dengan pengetahuan. Seperti ketika seseorang merasa senang apabila ia berhasil mengetahui sesuatu atau tidak senang apabila gagal mengetahui sesuatu.
·         -Perasaan estetis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan keindahan. Contohnya seseorang merasa senang apabila ia melihat atau mendengar sesuatu yang indah,sebaliknya timbul perasaan kesal apabila yang ia dengar tidak indah.
·         -Perasaan etis, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kebaikan, seseorang merasa senang apabila sesuatu yang ia lihat baik begitupun sebaliknya.
·         -Perasaan diri, yaitu perasaan yang berkenaan dengan harga diri karena ada kelebihan dari yang lain. Contohnya  apabila seseorang memiliki kelebihan pada dirinya,ia merasa tinggi,angkuh bahkan sombong ,dan sebaliknya apabila terdapat kekurangan pada dirinya ia merasa rendah diri.
·         -Perasaan sosial, yaitu perasaan yang berkenaan dengan kelompok atau korp atau hidup bermasyarakat, ikut merasaakn kehidupan orang lain. Apabila sesuatu kelompok berhasil ia akan ikut senang ,dan sebaliknya apabila suatu kelompok tersebut gagal,ia ikut sedih. 
·         -Perasaan religius, yaitu perasaan yang berkenaan dengan agama atau kepercayaan. Seseorang dapat merasa tentram jiwanya apabila ia tawakal kepada Tuhan ,yaitu mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
c.       Mahluk biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi
Sebagai mahluk hayati, manusia dapat dipelajari dari segi-segi anatomi,fisiologi atau faal,biokimia,psikologi,patologi,genetika,biodemografi,evolusi biologisunya,dan sebagainya. Sementara sebagai mahluk budayawi,manusia dapat dipelajari dari segi-segi kemasyarakat,kekerabatan,psikologi sosial,kesenian,ekonomi,perkakas,bahasa,dan sebagainya.
d.      Mahluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kulitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya
Soren Kienkegaard, seorang filsuf Denmark pelopor ajaran “eksistensialisme” memandang manusia dalam konteks kehidupan konkrit adalah mahluk alamiah yang terikat dengan lingkungannya (ekologi), memiliki sifat-sifat alamiah dan tunduk pada hukum alamiah pula.
          Hidup manusia memiliki 3 taraf yaitu ;
-          Estetis : dengan kehidupan estetis,manusia mampu menangkap dunia sekitarnya sebagai dunia yang mengagumkan dan mengungkakan kembali (karya) dalam tulisan,tarian,nyanyian yang indah.
-          Etis : manusia meningkatkan kehidupan estetis ke dalam tingkatan manusiawi dalam bentuk-bentuk keputusan bebas dan dipertanggungjawabkan.
-          Religius : manusia menghayati pertemuannya dengan Tuhan.

C.      Kepribadian Bangsa Timur
Ilmu psikologi yang memang berasal dan timbul dalam masyarakat Barat,dimana konsep individu itu mengambil tempat yang amat penting, biasanya menganalisis jiwa manusia dengan terlampau banyak menekan kepada pembatasan konsep individu sebagai kesatuan analasisis tersendri.


            Francis L.K Hsu, sarjana Amerika keturunan Cina yang mengkombinasikan dalam dirinya keahlian di dalam ilmu antropologi, ilmu psikologi, ilmu filsafat dan kesusastraan cina klasik. 
Dengan keahlian dalam ilmu tersebut Hsu menyusun konsep kepribadian timur sebagai alternative  konsep kepribadian menurut psikologi barat (eropa dan amerika). Teorinya disebut teori kepribadian Jen dari sastra Cina, yang berarti manusia yang berjiwa selaras, manusia yang berkepribadian. Konsep tersebut ditulis dalam majalah American anthropologist vol. 73 tahun 1971 dengan judul psychologist homeostatis and Jen (pp. 23 - 44). Konsep kepribadian selaras untuk menganalisis jiwa manusia masyarakat timur, misalnya Cina, Jepang, Asia, termasuk juga Indonesia ( koentjaraningrat, 1992, p. 129 ).
Hsu menggambarkan lingkungan alam kehidupan jiwa atau kepribadian manusia itu ada delapan lingkaran yang konsentris.Lingkaran tersebut hanya tehnis analisisdan tidak matematis, sehingga gambarannnya bukan lingkaran sempurna, tetapi gambraran yang mengelilingi atau mengitari individu.
1.      Lingkaran ke 7 sebagai pusatnya, jadi paling dalam, untuk menggambarkan kehidupan jiwa yang tidak disadari. Isi dari bagian lingkaran ke 7 ini ialah semua cipta, rasa, karsa, yang semula disadari , tetapi lalu ditekan atau didesak masuk kedalam tidak sadaran, lama- lama menjadi tidak disadari.
2.      Lingkaran ke 6 yang terletak diluar lingkaran ke7, tetapi sepusat dengan lingkaran ke7 tadi, merupakan lapisan bawah sadar atau sub sadar. Lapisan ini berbatasan dengan lingkaran berikutnya, yakni lingkaran ke5. lapisan ke6 ini isinya sama dengan lapisan ke7, hanya berbeda tingkat ketidaksadarannya. Maka kedua lingkaran ini disebut lapisan lingkaran tidak sadar. Dua lapisan paling dalam ini mirip dengan konsep sigmund freud, sebagai lapisan das es atau Id.
3.      Lingkaran ke5 adalah menggambarkan lapisan kesadaran jiwa, tetapi tidak dinyatakan. Isinya mengenai pikiran-pikiran dan gagasan yang disadari penuh individu yang bersengkutan, tetapi tidak pernah dinyatakan kepada orang lain atau siapapun. Mengapa isi kesadaran tersebut tidak dinyatakan kepaada orang lain, mungkin ada beberapa alasan, anatara lain :
a.   Ia takut salah atau takut dimarahi orang lain, atau malu, karena mempunyai maksud jahat.
b.   Ia enggan menyatakannya karena takut tidak mendapat respon baik atau bahkan ditolak.
c.    Ia malu karena takut ditertawakan oleh orang lain.
d.   Ia tidak mempunyai atau tidak menemukan kata-kata atu perumusan yang cocok untuk menyatakan gagasan tadi pada orang lain.
4.      Lingkaran lapisan ke 4, disebut lapisan kesdaran yang dinyatakan. Isinya adalah pikiran- pikiran, gagasan - gagasan, perasaan-perasaan, dan sebaagainya yang dapat dinyatakan secara terbuka kepada orang lain, dan dapat diterima dengan mudah oleh sesamanya. Misalnya : simpati, kegembiraan, kemarahan, pendapat, gagasan, keinginan dan sebaagainya. Jadi isi lapisan ke  4 ini adalah bahan-bahan untuk berkomunikasi dengan siapapun, baik di rumah, sekolah, tempat kerja, masyarakat dan lain-lain.
5.      Lingkaran ke 3, disebut lapisan lingkaran hubungan karib atau hubungan akrab, disebut juga hubungan dekat. Berisi tentang : konsepsi tentang orang lain, benda, binatang yang diajak komunikasi oleh individu secara intim atau eksklusif. Pergaulan karib ini biasanya digunakan individu untuk tempat berlindung, curhat, tempat menghilangkan tekanan batin. Pendukung pada lapisan ini adalah dalam hal kejiwaan individu adalah : orang tua, sahabat, saudara, teman dekat dan sebagainya. Lingkaran kejiwaan ke 3 ini sebagai dasar kehidupan kerohanian manusia dan bersama lingkunagnnya hidup jiwa ke 4 menjadi dasar untuk membangun kehidupan pribadi yang aman, tentaram, harmonis, stabil, sekaligus dinamis. Atau yang disebut homeostatis psikologis.
6.      Lingkungan kehidupan kejiwaan dengan hubungan kegunaan, digambarkan dengan lingkaran ke 2. Misalnya hubungan antar pedagang pembeli, mandor karayawan, jadi hubunagn ini tidak perlu pada sampai hubungan karib atau dekat.
7.      Lingkaran no 1 sebagai gambaran lingkaran hubungan jauh, terdiri dari pikiran dan sikap dalam jiwa tentang manusia, benda-benda, pengetahuan, adat, dan sebagainya jarang sekali memberi pengaruh langsung kepada kehidupan manusia karena dianggap tidak dekat atau jauh dengan individu yang bersangkutan. Karena tidak ada tempat dan fungsi langsung dalam kehidupan mereka pada setiap harinya.
8.      Lingkaran no 0 lingkatran yang paling luar, dapat disebut dengan hubungan luar. Berisi tentang pikiran dan anggapan,  anggapan yang mirip denagn isi pada lingkaran no 1. tetapi ada beberapa perbedaan yaitu :
a.   Isi kejiwaan dalam lingkaran no 1 adalah hal-hal diluar masyarakat individu yang bersangkutan, tetapi masih dalam lingkungan bangsa dan negaranya.
b.   Isi kejiwaan dalam no 0 telah terletak diluar masyarakat dan bangsa dari individu yang bersngkutan. Misal tentang hubungan antar individu dengan negara asing seperti Prancis, bagi orang awam merupakan hubungan yang sangat jauh dengan kehidupannya. Tetapi bagi orang yang mungkin punya kenangan dengan negara- negara akan masuk dalam kejiwaannya.


Sebagian besar isi kejiwaan manusia, misalnya pengetahuan, pengertiannya tentang adat istiadat, kebudayaan, lingkungan, nilai-nilai dan norma, pandangan hidup, menurut psikologi barat terkandung dalam kepribadian manusia. Hal inilah yang menjadi konsep ego. Hsu berpendapat, bahwa manusia memerlukan suatu daerah isi jiwa tambahan, untuk memuaskan suatu kebutuhan kejiwaan yang bersifat mendasar dalam hidupnya.
Daerah pada 7,6,5 merupakan daerah kepribadian manusia dan daerah no 3 merupakan daerah mendasar yang berisi tentang cinta, kemesraan, dan juga rasa takut yang hakiki, mendasar, fundamental dalam kehidupan manusia. Misalnya adanya iman dan takwa terhadap tuhan YME, adanya ideologi, pandangan hidup, agama, merupakan sasaran bagi kebaktian mutlak manusia. Isi kejiwaan semacam ini terdapat pada no 3, denagn demikian manusia mampu menjalani hidup dengan selaras dan seimbang, dapat hidup harmonis.
Dengan konsep psiko-sosiogram, Hsu mengusulkan konsep kepribadian timur sebagai alternatif konsep kepribadian barat. Konsep ini adalah konsep Jen, konsep menurut agama budha di Cina. Jen berarti manusia yang berjiwa selaras dan berkepribadian. Dengan arti bahwa manusia mampu menjaga hubungan antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya yang paling dekat dan serius, kepada siapa dapat mencurahkan rasa cinta, kemesraan, dan baktinya.
Daerah lingkaran 4 dan 3 merupakan daerah ranah psikologi homeostatis, yakni yang berjiwa selaras dalam individu manusia.Konsep kepribadian timur yang dikemukakan oleh Hsu dimaksudkan untuk tidak membatasi manusia yang hanya mahluk individual, tetapi tetap berhubungan dengan lingkungan sosial budayanya

D.     Kebudayaan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia , Kebudayaan adalah  hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat atau keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya. Kebudayaan jika dikaji dari asal kata bahasa sansekerta berasal dari kata “Budhayah” yang berarti budi atau akal. Dalam bahasa latin, kebudayaan berasal dari kata “colere”, yang berarti mengolah tanah. Jadi, secara umum dapat diartikan sebagai dapat diartikan sebagai “segala sesuatu yang dihasilkan oleh akal budi (pikiran) manusia dengan tujuan untuk mengolah tanah atau tempat tinggalnya; atau dapat pula diartikan segala usaha manusia untuk dapat melangsungkan dan mempertahanan hidupnya di dalam lingkungannya” .
Kebudayaan menurut para ahli :
·         Ki Hajar Dewantara: “Kebudayaan adalah buah budi manusia dalam hidup bermasyarakat”
·         Koentjaraningrat, guru besar Antropologi di Universitas Indonesia:“Kebudayaan adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”.
·         Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
·         Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
·         Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
·         R. Linton (The Cultural Background of Personality) Kebudayaan adalah konfigurasi dari tingkah laku dan hasil laku, yang unsur-unsur pembentukannya didukung serta diteruskan oleh anggota masyarakat tertentu.
·         Dr. Moh. Hatta, Kebudayaan adalah ciptaan hidup dari suatu bangsa

E.      Unsur – unsur kebudayaan
Kebudayaan setiap bangsa atau masyarakat terdri dari unsur-unsur besar maupun kecil yang merupakan bagian dari suatu kebulatan yang bersifat sebagai kesatuan. Misalnya dalam kebudayaan Indonesia dapat dijumpai unsur besar seperti Majelis Pemusyawaratan Rakyat disamping unsur-unsur kecil seperti sisir,kancing,baju,peniti dan lainnya yang di jual di pinggir jalan.
Dimana Menurut Melville J. Herkovits, seorang Antropolog asal Amerika Serikat mengajukan pendapatnya bahwa hanya ada empat unsur kebudayaan, yaitu alat-alat teknologi, sistem ekonomi, keluarga, dan kekuatan politik.
Sedangkan Bronislaw Malinowski, seorang Antropolog yang berasal dari Polandia mengatakn bahwa unsur-unsur budaya terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan, dan organisasi kekuatan.
Sementara C.Kluckhohn pada karya nya yang berjudul “Universal Categories Of Culture” mengemukakan bahwa ada tujuh unsur kebudayaan universal,yaitu :
1.      Sistem religi (Sistem kepercayaan)
Adalah manusia yang memiliki kecerdasan pikiran dan perasaan luhur (homo religius) .
2.      Sistem Organisasi Kemsyarakatan
Adalah manusia sadar bahwa tubuhnya lemah,namun memiliki akal,maka disusunlah organisasi kemsyarakatan dimana manusia bekerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya (Homo Socius)
3.      Sistem Pengetahuan
Pengetahuan dapat diperoleh dari pemikiran sendiri maupun orang lain. Kemampuan manusia mengingat-ingat apa yang diketahui lalu di sampaikan kepada orang lain melalui bahasa ,menyebabkan pengetahuan menyebar luas (homo sapiens) .  
4.      Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi
Merupakan manusia sebagai homo economicus menjadikan tingkat kehidupan manusia secara umum terus meningkat.
5.      Sistem teknologi dan peralatan
bersumber dari pemikirannya yang cerdas dan di bantu dengan tangannya yang dapat memegang sesuatu dengan erat,manusia dapat membantu dan mempergunakan alat (Homo Faber) .
6.      Bahasa
Bahasa manusia pada mulanya diwujudkan dalam bentuk tanda (kode) yang kemudian disempurnakan dalam bentuk bahasa lisan hingga akhirnya menjadi bentuk bahasa tulisan (Homo longuens)
7.      Kesenian
Manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan isi perut saja,mereka juga perlu pandangan mata yang indah, suara yang merdu, yang semuanya dapat dipenuhi melalui kesenian (Homo aesteticus) .

F.       Wujud kebudayaan
Menurut Koentjaraningrat kebudayaan itu dibagi menjadi tiga wujud, yaitu :
  • ·         Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan peraturan. Wujud ini disebut sistem budaya, sifatnya abstrak, tidak dapat dilihat, dan berpusat pada kepala-kepala manusia yang menganutnya, atau dengan perkataan lain, dalam alam pikiran warga masyarakat dimana kebudayaan bersangkutan hidup.
  • ·         Wujud sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat. Berupa aktivitas manusia yang saling berinteraksi, bersifat kongkret, dapat diamati atau diobservasi dan sering disebut sistem sosial.
  • ·         Wujud kebudayaan sebagi benda-benda hasil karya manusia. Wujud yang terakhir aktivitas manusia yang saling berinteraksi tidak lepas dari berbagai penggunaan peralatan sebagai hasil karya manusia untuk mencapai tujuannya. Aktivitas karya manusia tersebut menghasilkan benda untuk berbagai keperluan hidupnya. Kebudayaan dalam bentuk fisik yang kongkret bisa juga disebut kebudayaan fisik, mulai dari benda yang diam sampai pada benda yang bergerak.
G.     Perubahan kebudayaan
Masyarakat dan kebudayan dimanapun selalu dalam keadaan yang berubah-ubah. Sekalipun masyarakat dan kebudayaan primitif yang terisolasi dari berbagai hubungan dengan masyarakat lainnya.
Ada lima penyebab terjadi perubahan kebudayaan, yaitu :
1.      Perubahan lingkungan alam
2.      Perubahan yang disebabkan adanya kontak dengan kelompok lain
3.      Perubahan karena adanya penemuan (discovery)
4.      Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan oleh bangsa lain ditempat lain
5.      Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan dengan mengadopsi suatu pengetahuan atau kepercayaan baru atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi diterima atau tidaknya unsur kebudayaan baru :
·         Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.
·         Jika pandangan hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama, dan ajaran ini terjalin erat dalam keseluruhan pranata yang ada, maka penerimaan unsur baru itu mengalami hambatan dan hasur disensor dulu oleh berbagai ukuran yang berlandaskan ajaran agama yang berlaku.
·         Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru, misal sistem otoriter akan sukar menerima unsur kebudayaan baru.
·         Suatu unsur kebudayaan diterima jika sebelumnya sudah ada unsur-unsur kebudayaan yang menjadi landasan bagi diterimanya unsur kebudayaan yang baru.
·         Apabila unsur yang baru itu memiliki skala kegiatan yang terbatas dan dapat dengan mudah dibuktikan kegunaannya oleh warga masyarakat yang bersangkutan.

   Penyebab terjadinya perubahan kebudayaan, yaitu :
o   Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri, misalnya perubahan jumlah dan komposisi penduduk.
o   Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup, juga karena adanya difusi kebudayaan, penemuan-penemuan baru, khususnya teknologi dan inovasi. Proses akulturasi di dalam sejarah kebudayaan terjadi dalam masa-masa silam.

   Biasanya suatu masyarakat hidup bertetangga dengan masyarakat-masyarakat lainnya dan antara mereka terjadi hubungan-hubungan, mungkin dalam lapangan perdagangan, pemerintahan dan sebaginya. Pada saat itulah unsur-unsur masing-masing kebudayaan saling menyusup. Proses migrasi besar-besaran, dahulu kala, mempermudah berlangsungnya akulturasi tersebut.

H.     Kaitan manusia dan kebudayaan
Dalam sosiologi manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal,maksudnya walaupun keduanya berbeda tetapi keduanya merupakan satu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan dan setelah kebudayaan itu tercipta maka kebudayaan mengatur kehidupan manusia agar sesuai dengannya. Contoh yang bisa kita lihat dan kita rasakan adalah hubungan antara manusia dengan peraturan-peraturan kemasyarakatan.
            Dari sisi lain, hubungan antara mannusia dan kebudayaan ini dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dengan masyarakat dinyatakan sebagai saling terkait satu sama lain (dialektis) . proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap,yaitu :
o   Eksternalisasi,proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.
o   Obyektivasi, proses dimana masyarakat menjadi realitas yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.
o   Internalisasi , proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya manusia mempelajari kembali masyarakat sendiri agar dia dapat hidup dengan baik,sehingga manusia menjadi kenyataan yang dibentuk oleh masyarakat.
Manusia dan kebudayaan atau manusia dan masyarakat, mempunyai hubungan keterkaitan yang erat satu sama lain.



Daftar Pustaka :
  • www.wikipedia.com
  • Buku Pengantar Ilmu Antropologi oleh Koentjaraningrat
  • Buku Ilmu Budaya Dasar oleh Universitas Gunadarma
  • Buku Pengantar Antropologi oleh Universitas Gunadarma

Comments